SSumohai Suara
Kuliner khas Sumohai: olahan sagu, ikan sungai, dan rempah hutan

Papeda, Ikan Sungai, dan Rempah Hutan: Dapur Sehari-hari Warga Sumohai

Warga Sumohai mengolah sagu jadi papeda, dipadu ikan sungai segar dan rempah hutan. Dapur sehari-hari di tepi Sungai Memberamo, Papua.

Papeda, Ikan Sungai, dan Rempah Hutan: Dapur Sehari-hari Warga Sumohai

Sorotan Utama

  • Sumohai terletak di Kabupaten Memberamo Raya, Provinsi Papua, di tepi Sungai Memberamo.
  • Sagu adalah sumber karbohidrat utama; papeda dibuat dari tepung sagu yang diseduh air panas.
  • Ikan sungai seperti gabus, mas, dan lele ditangkap dari sungai dan rawa sekitar.
  • Rempah dan bumbu hutan dipakai untuk memberi rasa pada kuah ikan, bukan untuk pengawetan.
  • Akses ke Sumohai umumnya lewat sungai dan udara; jalan darat terbatas, terutama musim hujan.

Pagi di Dapur Tepi Memberamo

Di Sumohai, Kabupaten Memberamo Raya, Provinsi Papua, pagi sering dimulai sebelum matahari penuh naik. Perempuan menumbuk sagu di balok kayu, sementara air Sungai Memberamo masih berwarna gelap. Di dapur rumah panggung, tungku kayu bakar menyala. Asap tipis keluar dari celah atap. Bau sagu basah bercampur aroma daun dan akar yang baru dipetik dari hutan.

Sumohai adalah salah satu distrik di pedalaman Papua yang kehidupannya sangat bergantung pada sungai. Transportasi utama umumnya lewat air, ditambah penerbangan perintis ke bandara kecil. Jalan darat terbatas dan sering tidak bisa dilewati saat musim hujan. Karena itu, dapur warga tidak bergantung pada pasar. Bahan datang dari hutan, sungai, dan kebun sagu di sekitar kampung.

Papeda: Dari Empulur Sagu ke Meja

Papeda adalah makanan pokok yang paling dikenal. Prosesnya panjang. Batang sagu ditebang, dibelah, lalu empulurnya diparut. Hasil parutan dicuci dan diperas untuk memisahkan pati dari serat. Pati mengendap, air dibuang, dan tepung sagu basah siap dimasak.

Untuk membuat papeda, tepung sagu diseduh air mendidih sambil diaduk cepat. Adonan berubah bening dan lengket, seperti lem transparan. Warga memakannya dengan cara dililitkan pada bilah kayu atau sumpit, lalu dicelupkan ke kuah ikan. Rasa papeda netral, teksturnya kenyal. Fungsi utamanya mengenyangkan, bukan memberi rasa. Rasa datang dari lauk pendamping.

Di beberapa rumah, sagu juga diolah jadi bagea atau sagu bakar. Sagu bakar dibuat dengan membungkus adonan sagu dalam daun, lalu dipanggang di bara. Bentuknya padat dan tahan beberapa hari. Ini bekal praktis saat pergi ke hutan atau ke kebun.

Ikan Sungai dan Rempah Hutan

Sungai Memberamo dan rawa di sekitarnya menyediakan ikan air tawar. Jenis yang sering ditangkap antara lain ikan gabus, ikan mas, dan lele. Warga memancing dengan pancing sederhana, memasang bubu, atau menebar jala di bagian sungai yang tenang. Hasil tangkapan langsung dimasak atau diasap untuk disimpan.

Kuah ikan adalah pasangan wajib papeda. Ikan dibersihkan, lalu direbus dengan air, garam, dan bumbu dari hutan. Rempah yang dipakai biasanya daun jeruk, serai, kunyit, jahe, dan daun kemangi. Sebagian warga juga memakai buah merah atau daun lain yang tumbuh liar. Bumbu ini ditumbuk kasar, lalu dimasukkan ke kuah. Tidak ada resep baku. Setiap dapur punya campuran sendiri, tergantung apa yang sedang tersedia di hutan.

Kuahnya bening kekuningan, beraroma tajam. Ikan dimasak sampai dagingnya lembut. Papeda dicelup, lalu disantap bersama kuah dan ikan. Kadang ditambah sayur pakis atau daun singkong yang direbus. Kombinasi ini memberi karbohidrat dari sagu, protein dari ikan, dan vitamin dari sayur.

Ekonomi Dapur dan Perubahan Zaman

Dapur di Sumohai bukan sekadar tempat memasak. Ia pusat ekonomi rumah tangga. Sagu yang berlebih dijual atau ditukar dengan kebutuhan lain. Ikan asap dan hasil hutan seperti kopi, kakao, atau kulit kayu masohi kadang dijual ke pedagang yang datang lewat sungai. Harganya relatif terjangkau, tetapi tidak selalu stabil karena bergantung pada akses transportasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, beras dan mie instan mulai masuk ke kampung. Warga tetap memasak papeda, tetapi konsumsi beras meningkat, terutama di rumah yang dekat dengan kios. Perubahan ini tidak menghapus papeda. Papeda tetap makanan utama saat acara adat, kunjungan keluarga, atau makan bersama di gereja.

Tantangan lain adalah musim. Saat air sungai naik, ikan lebih sulit ditangkap. Saat kemarau panjang, kebun sagu bisa terganggu. Warga mengatasinya dengan menyimpan sagu kering dan ikan asap. Pola ini sudah berjalan lama dan menjadi cara bertahan di pedalaman.

Cara Menikmati dan Menghormati

Bagi pendatang, makan papeda butuh latihan. Teksturnya lengket dan tidak biasa. Cara paling mudah adalah mengambil sedikit papeda dengan sumpit, memutar sampai menggulung, lalu mencelupkannya ke kuah. Jangan menaruh papeda di piring lalu menuang kuah banyak-banyak. Papeda akan larut dan sulit diangkat.

Yang lebih penting adalah sikap. Di Sumohai, makanan disajikan dengan tangan dan dimakan bersama. Menolak makanan yang disuguhkan bisa dianggap kurang sopan. Jika tidak sanggup menghabiskan, ambil porsi kecil dulu. Warga biasanya senang menjelaskan cara membuat papeda dan jenis ikan yang sedang dimasak.

Dapur Sumohai mengajarkan hal sederhana. Makanan tidak harus datang dari jauh. Sagu dari kebun, ikan dari sungai, dan rempah dari hutan sudah cukup untuk satu meja. Yang dibutuhkan hanya kesabaran mengolah dan kemauan berbagi.

Pertanyaan Umum

Apa makanan pokok warga Sumohai?

Papeda dari sagu. Sagu diolah dari batang sagu di kebun sekitar kampung, lalu diseduh air panas sampai mengental.

Ikan apa yang biasa dimasak dengan papeda?

Ikan sungai seperti gabus, mas, dan lele. Ikan ditangkap dari Sungai Memberamo dan rawa sekitar, lalu direbus dengan bumbu hutan.

Rempah apa yang dipakai di dapur Sumohai?

Daun jeruk, serai, kunyit, jahe, dan kemangi. Sebagian warga juga memakai buah merah atau daun liar lain yang tersedia di hutan.

Bagaimana cara makan papeda?

Ambil sedikit papeda dengan sumpit atau bilah kayu, putar sampai menggulung, lalu celupkan ke kuah ikan. Papeda tidak disantap terpisah dari kuah.